field of dreams

just another life term

Archive for November, 2007

T-shirt dan Distro

T-shirt, jenis pakaian yang paling digemari oleh berbagai kalangan dan umur. Mulai dari bayi, anak kecil, muda ampe kakek-nenek (eitss…gak boleh protes, nenekku gaul soalnya, umur 80 tahun masih pake t-shirt) semua suka pakai t-shirt.

Menurut Wikipedia :

T-shirts are typically made of cotton or polyester fibers (or a mix of the two), knitted together in a jersey stitch that gives a T-shirt its distinctive soft texture. T-shirts are often decorated with text and/or pictures. It is also a good place to advertise.

T-shirt fashions include styles for men and women, and for all age groups, including baby, youth and adult sizes.

Awalnya, t-shirt berfungsi sebagai underwear tetapi seiring perkembangannya, t-shirt tidak hanya dipakai sebagai underwear melainkan juga dipakai di luar sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan dipakai sebagai salah satu alat kampanye politik, pertama kalinya di USA saat kampanye pemilihan presiden tahun 1948 oleh gubernur New York saat itu Thomas E. Dewey yang memproduksi t-shirt dengan tulisan “Dew It for Dewey”. Hal ini ditiru pada tahun 1952 dengan munculnya t-shirt dengan tulisan “I Like Ike” untuk mendukung Jenderal Dwight D. Eisenhower. Bahkan bintang2 film ternama saat itu seperti John Wayne, Marlon Brando dan James Dean memakai t-shirt saat muncul di televisi nasional.

Pada awalnya orang2 masih belum bisa menerima pemakaian t-shirt yang bukan sebagai underwear tetapi pada tahun 1955, masyarakat mulai bisa menerima dan sejak itulah pemakaian t-shirt semakin berkembang. Warna dan gambar serta modelnya pun semakin beragam.

Sekarang, t-shirt banyak dipakai di kalangan anak muda. Di Bandung bahkan pernah mewabah pembukaan distro clothing yang barang jualan utamanya adalah t-shirt, tentunya dengan desain dan model yang sangat beragam dan berbeda gaya antara satu distro dengan distro yang lainnya. Sekarang sudah agak menurun pembukaan distro2 baru di Bandung, mungkin karena persaingan yang semakin ketat. Sehingga lebih banyak yang membuka distro clothing di luar kota Bandung, seperti di Garut, Tasikmalaya, dll.

Jogjakarta juga termasuk salah satu kota yang anak2 mudanya berhasil sukses membuat terobosan dengan membuat kaos-kaos yang berkualitas bagus (baik bahan kaos maupun sablonannya) dengan berbagai desain yang terutama ditekankan pada ‘guyonan’ alias joke-joke yang populer di kalangan anak muda di Jogjakarta, bahkan banyak yang memakai bahasa Jawa.

Distro2 ini sangat digemari anak2 muda terutama karena selain desainnya bagus (baca : gak malu-maluin dan gak pasaran), harganya juga cukup terjangkau antara Rp 40.000 s/d Rp 70.000 untuk kaos, Rp 100.000 s/d Rp 200.000 untuk jaket, Rp 150.000 s/d Rp 250.000 untuk celana panjang dan Rp 50.000 s/d Rp 150.000 untuk rok. Sedangkan produk lain yang biasanya juga dijual di distro clothing adalah tas, dompet, aksesori seperti gelang-kalung-gantungan dan pouch handphone-scarf-belt, sepatu, berbagai macam sticker bahkan sampai kaset/CD dari grup band lokal dan asing. Kebanyakan pemilik distro di Bandung memang terhubung erat dengan lingkungan musisi Bandung (tentunya dengan berbagai aliran musiknya, dari punk sampai pop dan rock ‘n roll) yang tentunya berhubungan juga dengan lingkungan anak-anak skateboard Bandung dan berbagai jenis kelompok lain. Hal ini banyak mempengaruhi trend dari desain dan model t-shirt yang beredar dan tersedia di distro-distro. Trend juga dipengaruhi oleh merk-merk clothing dari luar negeri, khususnya merk-merk clothing yang mengkhususkan pada olah raga selancar alias surfing.

Kebanyakan distro sudah memiliki desainer sendiri sehingga desain yang dibuat tidak akan sama dengan distro yang lain (kan harus bersaing :D ). Biasanya satu desain t-shirt hanya dibuat beberapa buah saja dengan warna-warna yang terbatas juga, supaya tidak pasaran. Sedangkan untuk desain aksesoris biasanya dibuat lebih banyak jumlah dan jenisnya. Kadang ada juga distro yang menerima pesanan custom, terutama untuk jaket, aksesoris dan sepatu, tentunya dengan harga yang berbeda. Untuk bisa bersaing, setiap distro harus memiliki desain yang khas alias kudu beda dari distro yang lain. Ya kalo pasaran sih belanja di Matahari aja :P

Bisnis distro memang cukup menjanjikan, tapi kalo buka di Bandung kayaknya udah kepenuhan….jadi mendingan buka distro di kota2 sekitar Bandung seperti di Cirebon, Kuningan, Tasik, Garut, Sumedang, Majalengka atau merambah ke kota-kota di daerah Jawa Tengah. Masih ‘agak’ lowong pasarnya. Modal awal buka distro bervariasi, tergantung dari banyaknya barang/item yang ingin kita buat untuk dijual pertama kali. Kalau mau mengurangi beban dalam permodalan, mungkin bisa join dengan teman dalam hal uangnya atau minta tolong teman untuk membuatkan desainnya dan menyablonkan di kaosnya. Tapi harus tetap jelas ya hitung-hitungannya, karena teman ya teman tapi bisnis tetap bisnis. Cuma untuk awalnya kalo joinan gini kan jadi lebih ringan, biaya desain dan sablon jadi bisa dibayar nanti di belakang.

Ada yang berminat buat buka distro? Atau cuma pengen bikin kaos sebiji doang supaya gak ada yang nyamain? Bisa hubungi saya di dewi.permadi@gmail.com untuk desain t-shirt, jahit dan sablonnya :D

Note : boleh dooonnggg….ngiklan di blog sendiri :P

Niat jual TV

Sudah seminggu terakhir ini saya berpikiran untuk menjual saja TV dan DVD Player di rumah. Tentu saja, pada saat saya mengutarakan niat ini, langsung dapat protes keras dari anak2 saya. Apalagi anak saya yang kedua, dia malah langsung nangis….. Begitu besarnya pengaruh TV buat anak2 jaman sekarang ya….. Saya ingat waktu saya masih kecil, cuma ada TVRI doang…..trus pas baru ada RCTI, harus punya antena parabola untuk menangkap siarannya dari kota kecil tempat saya dibesarkan :D Anak2 saat itu sangat jarang nonton TV, lebih sering main di luar bersama teman2nya. Saya dan adik saya paling sering dan senang manjat pohon ketela karet yang tertanam sepanjang jalan di komplek perumahan tempat saya tinggal dulu.

Alasan dibalik niat menjual TV tidak lain adalah karena menurut saya, tontonan/acara TV di Indonesia saat ini sudah sangat-sangat parah dan tidak bermutu. Terutama SINETRON !!! AMPUN DEHHH…!!!!! Saya bekerja sehingga tidak bisa 24 jam mengawasi anak2 di rumah nonton acara apa saja. Pengasuhnya (yang rencananya akan sesegera mungkin saya pecat begitu dapat gantinya) sudah dipesan untuk tidak menonton acara2 sinetron atau film2 yang tidak sesuai dengan anak2, sampai2 saya sebut satu per satu nama acaranya. Tapi nyatanya, tetap saja dia menonton acara2 tersebut, bersama anak2 saya pula! Saya pernah marah besar gara2 hal itu. Setelah itu sih, memang agak berkurang, tapi ternyata masih juga sering curi2 nonton sesekali. Memang susah ya….

Pokoknya anti banget deh sama yang namanya sinetron! Apalagi pas mulai banyak banget sinetron yang tidak hanya menyadur tetapi benar2 ngejiplak film atau dram seri dari negara lain tanpa rasa malu (baca : tidak menyebutkan bahkan tidak mengakui bahwa cerita itu adalah saduran bahkan hanya terjemahan dari cerita milik orang lain). Contohnya, ada sinetron “Buku Harian Nayla” yang ditayangkan di RCTI yang jelas banget nge-jiplak dari dorama Jepang yang berjudul “Ichi Rittoru No Namida” atau “1 Littre of Tears”. Wikipedia masih terlalu baik dengan hanya menyebutkan “mirip” saja.

Selain itu,  ada sinetron “Candy” yang masih tayang (lagi-lagi) di RCTI. Yang jelas2 merupakan terjemahan dari dorama “Candy-Candy” yang diangkat dari serial manga berjudul sama. Bahkan nama2 tokoh utamanya pun sama (Candy, Anthony, Terry, Eliza). Oh oh…pelecehan banget…banget…banget…. Dan kedua sinetron itu merupakan produksi SinemArt. Wah wah wah….apakah rumah produksi ini memang mengkhususkan diri untuk memproduksi sinetron yang ceritanya merupakan bajakan? Kenapa dibilang bajakan, karena sama sekali tidak mencantumkan bahwa cerita tersebut merupakan saduran atau terjemahan dari cerita lain yang sudah ada.

Berarti penulis ceritanya juga ingin mengakui bahwa cerita tersebut merupakan ide orisinalnya sendiri…. Well, ORISINAL GUNDULMU..!!!!!!!

Selain itu, ada juga sinetron yang (mungkin, tapi diragukan sihh…) idenya orisinal TAPI GAK MUTU!!!! Contoh sinetron Si Eneng (RCTI), Dongeng (TransTV), banyak sinetron di Indosiar yang berbau mistis dan musyrik, apalagi program/sinetron di TPI. Dan saluran-saluran TV lokal/nasional yang lain yang banyak acara gak mutunya.

Cuma satu stasiun TV yang acara-acaranya (baik untuk anak2 maupun dewasa) mendingan. Bukan promosi, dan saya juga tidak punya sodara atau teman yang kerja di situ, tapi memang benar begitu (setidaknya menurut saya ya).

Dipikir-pikir, walaupun saya jadi menjual TV dan DVD player-nya, anak2 masih punya kesempatan buat nonton ya….. secara rumah saya dan rumah mertua saya saling berhadapan gitu…. Ibu mertua saya sudah tua dan sibuk mengurus ayah mertua saya yang sedang sakit, jadi saya tidak bisa mengharapkan beliau untuk ikut mengawasi anak2 dan pengasuhnya terus menerus.

Serba salah deh ya…..