field of dreams
just another life termArchive for Life
Against Abortion
Hi Mommy!
I am only 3/4 of an inch long,
But I have all my organs.
I love the sound of your voice.
Every time I hear it,
I wave my arms and legs.
The sound of your heart beat
Is my favorite lullaby.
Month Two.
Mommy,
Today I learned how to suck my thumb.
If you could see me
You could definitely tell that I am a baby.
I’m not big enough to survive outside my home though.
It is so nice and warm in here.
Month Three.
You know what Mommy,
I’m a boy!
I hope that makes you happy.
I always want you to be happy.
I don’t like it when you cry.
You sound so sad.
It makes me sad too,
And I cry with you even though
You can’t hear me.
Month Four.
Mommy,
My hair is starting to grow.
It is very short and fine
But I will have a lot of it.
I spend a lot of my time exercising.
I can turn my head and curl my fingers and toes
And stretch my arms and legs.
I am becoming quite good at it too.
Month Five.
You went to the doctor today.
Mommy, he lied to you.
He said that I’m not a baby.
I am a baby, Mommy, your baby.
I think and feel.
Mommy, what’s abortion?
Month Six.
I can hear that doctor again.
I don’t like him.
He seems cold and heartless.
Something is intruding my home.
The doctor called it a needle.
Mommy what is it? It burns!
Please make him stop!
I can’t get away from it!
Mommy! Help me!
Month Seven.
Mommy,
I am okay.
I am in Gods arms.
He is holding me.
He told me about abortion.
Why didn’t you want me, Mommy?
Every abortion is just…
One more heart that was stopped.
Two more eyes that will never see.
Two more hands that will never touch.
Two more legs that will never run.
One more mouth that will never speak.
**This post is a re-posted writing of a friend’s note in Facebook**
**Thank’s to Nuga for permitting me to re-post this**
HP ESIA HUAWEI C2601
Akhirnya tercapai juga cita-cita pengen punya HP Huawei C2601 Esia yang “katanya” cuma 199.000 itu ![]()
Untung ada temen adik ipar yang kerja di gerai Esia BEC, jadi gak perlu ngantri panjang (dan pastinya lama) di situ. Aku beli tanggal 11 Oktober 2007 (dua hari sebelum Lebaran) tapi gilaaaa….yang ngantri masih bejibun! Gak pada mudik kali yeee….hehehhe
)
Harganya juga yang menurut cerita temen2 lain ada yang jual sampai 350rb segala di Jakarta, sedangkan di toko lain di BEC, selain gerai Esia, pas mau lebaran harganya dari yang nawarin 260rb (blm diisi pulsa) langsung dinaikin jadi 280rb bahkan 300rb (blm diisiin pulsa). Di gerai Esia BEC aku dapet harganya 240rb udah diisiin pulsa 25rb (wahhh…thanks banget ya, Die!)
Udah gitu dipilihin nomornya yang lumayan bagus dan gak ‘kriting’….Setelah sampai di rumah, langsung deh penasaran ngoprek tuh HP cari tahu fitur-fiturnya. Ternyata fiturnya biasa aja (emangnya ngarepin apa dari HP seharga itu?). Tapi lumayan buat telepon ama SMS aja mah, lagian ada 1000 menit gratis telepon ke sesama Esia jadi enak banget buat telepon ke adik2ku, nyokap dan suami yang juga punya nomor Esia.
Aku nilai 90% fiturnya udah OK (dibandingkan dengan harganya) tapi ada satu hal yang aku gak abis pikir, kok date ama time-nya gak bisa di setting yak? Jadi ngikut waktu network Esia, yang sialnya telat 2 menit dari jam ketokan absensi kantor aku
walhasil kudu nginget-inget terus kalo jam HP itu telat 2 menit. Memang sih aku ada HP GSM yang sama jam-nya dengan jam mesin ketokan absensi di kantor. Yah…maklum deh, aku bukan orang yang terbiasa pakai jam tangan (malezzz…). Jadinya ngandalin jam di HP terus.
Selain itu, keypadnya sama kayak keypad Nokia, sedangkan aku biasa pakai Siemens hehhe jadi pas awal2 kayak wong ndeso salah pencet molooo kalo lagi SMS-an. Untungnya jarang SMS-an sesama Esia karena kan masih ada nelpon gratisnya hehhehe jadinya ngapain SMS kalo nelpon gratis??? ‘Tul gak?? Batrenya juga lumayan tahan lama (apa karena baru ya…gak tau juga tuh).
So, overall kalo soal HP-nya sih OK, cuma (baru) nemu dua drawback itu aja. Lumayan banget daripada HP CDMA Samsung seri SGH (duh..berapa ya lupa lagi) yang ditawarin harga second-nya 500rb, mana batrenya nge-drop mulu lagi! Ogah!
Katanya (dari blog-blog yang aku baca), kartunya bisa pake Fren, hanya (lucunya) indikator sinyal networknya tetap tulisannya Esia. Gak tau deh bener atau gak, soalnya blom berani dioprek-oprek lebih jauh hehehhe… Ntar aja kalo udah abis 1000 menit gratisnya dan kalo udah sekitar 6 bulan or setaunan baru kayaknya aku berani nyobain pake kartu Fren (hahhahha lama banget yak….nungguin orang lain nyobain dulu, jadi kalo kenapa2 kan bukan HP aku). Hahahha gak mau rugi banget!
CANTIK VERSI SIAPA?
“Lihatlah perubahan pada suami setelah 7 hari!”
Merasa familiar dengan kata-kata iklan di atas? Pertama kali ngeliat iklan krim muka dari salah satu merk produk kecantikan yang terkenal di Indonesia ini, reaksi awal saya adalah bengong sebengong-bengongnya, setelah itu sebel, setelah itu kesel, lalu merasa kasihan untuk wanita2 yang termakan iklan produk itu dan atau yang punya suami seperti itu.
No wonder banyak wanita menghabiskan banyak uang untuk perawatan kecantikan yang sebenarnya tidak perlu. Sampai-sampai ada yang rela disuntik silikon cair oleh tukang suntik keliling atau di salon-salon kecantikan yang sama sekali tidak memiliki izin untuk melakukan praktik semacam itu, hanya karena iming-iming hidungnya akan semakin mancung, dagunya akan semakin bagus bentuknya, payudaranya akan semakin kenyal dan bagus bentuknya, dan lain-lain….dan lain-lain *sigh…*. BTW, gak bakal ada yang punya izin untuk menyuntikkan silikon cair sekarang. Atau disuntik supaya putih….ck…ck…ck….
Apa gak ada yang ngasih tau kalau hal-hal seperti itu sama saja dengan melecehkan diri sendiri. Apakah diri kita apa adanya itu tidak cukup berharga untuk dicintai? Apakah hanya cewek berkulit putih, berbadan langsing, berhidung mancung, berdagu bagus, dengan bibir aduhai yang pantas mendapatkan cinta dari pacar/suaminya? *setidaknya itu yang saya tangkap dari berbagai iklan produk kecantikan sekarang*
I’m really not anti beauty products!!! Tapi, please…..gak usah berlebihan. Sebagai seorang cewek, mungkin saya termasuk yang “beruntung” memiliki kulit putih karena darah turunan Sunda dan Menado yang mengalir di tubuh saya. Bagaimanapun, saya tidak pernah melakukan perawatan berlebihan. Saya termasuk wanita yang jarang banget ke salon (dalam setahun paling banyak 6 kali, itupun hanya untuk potong rambut karena saya gak tahan punya rambut panjang), gak pernah luluran atau melakukan hal-hal semacam itu kecuali benar-benar merasa butuh (itupun dilakukan sendiri di rumah dengan minta bantuan suami untuk menggosok bagian punggung yang tidak terjangkau
ehemm…), jarang pakai make up (karena itu kulit muka saya masih mulus seperti kulit wanita berumur 23 tahun, padahal umur saya sudah 29 tahun lebih). Setiap hari paling hanya pakai pelembab untuk muka dan leher, body lotion, lipbalm, dan parfum (Kenzo Bamboo). But I’m not asking all women in this world to follow my way. Kulit saya gak mulus-mulus amat karena saya termasuk yang kata orang sebagai “punya darah manis”, jadi kalau digigit nyamuk dan terlalu bersemangat menggaruk, jadilah bintik hitam di kulit tangan/kaki saya. Atau saat di jalan ada terlalu banyak debu, pasti deh langsung alergi gatel-gatel di seluruh badan.
Nah, kalau memang kaum pria hanya memandang kaum wanita lewat kecantikan lahiriahnya saja, kenapa saya (yang jelas-jelas cewek biasa-biasa) sejak dulu selalu punya banyak sahabat cowok? Dan sejauh yang pernah kami (saya dan sahabat-sahabat cowok saya) pernah diskusikan, pendapat mereka adalah walaupun di awalnya mereka silau dengan kecantikan seorang wanita, tetap saja what counts after the first impression adalah kepribadian dan isi otak si cewek ini. Banyak kasus dimana mereka bertemu dengan cewek yang mengagumkan kecantikannya, hanya sayangnya setelah ngobrol lebih banyak, isi pembicaraannya hanya berkisar kegiatan hura-hura (mulai dari nonton/belanja sampai dugem), nyalon, cowok cakep lain, gosip artis/teman mereka sendiri dan omongan semacam itu yang menurut teman-teman saya basbang dan hanya menarik di 5 menit pertama, masih bisa (di)tahan(-tahanin) dengar selama 1 jam kemudian tapi setelah itu pengen cepat-cepat kabur karena bosan setengah mati. Setelah itu, cewek itu udah gak ada menariknya bagi mereka. Jangan salah….teman-teman cowok saya banyak banget yang masuk kategori ganteng/cakep, menarik/charming, wangi, berduit (ada yang gajinya US$ 15rb loh sebulan…seriously!). Pokoknya pria idaman wanita deh (duh kok kayak judul lagunya The Changcuters ya
).
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seorang supermodel pun masih punya kekurangan. Alek Wek (supermodel botak yang punya kulit super hitam karena bawaan keturunan etnis Afrika-nya) tetap bisa jadi supermodel kan? Megawati tetap bisa jadi presiden wanita pertama di Indonesia walaupun tidak memiliki kecantikan versi iklan kan?
So sorry kalau ada/banyak yang tersinggung dengan tulisan saya ini, tapi saya tidak akan mengubah pendapat saya tentang hal-hal yang sudah saya tulis (eh, ketik ya
) tadi.
YA, iklan yang satu itu memang menyebalkan, tapi juga mengingatkan saya untuk selalu bersyukur saya memiliki suami yang tidak seperti suami di iklan itu (sama sekali tidak!).
YA, kalau model iklannya gak cantik, mungkin gak ada yang mau beli produknya.
YA, setiap cewek berhak memakai sebanyak mungkin produk kecantikan/kosmetik yang dia mau/mampu beli.
TETAPI
YA, setiap orang bebas punya pilihan dan pendapat dan hidup masing-masing.
YA, setiap cewek seharusnya mulai belajar menghargai diri sendiri, mencari kelebihan yang dimiliki dan merasa cantik selain kecantikan versi iklan.
YA, setiap orang berhak punya persepsi masing-masing saat mendengar kata “CANTIK”.
DAN
YA, saya pun masih suka belanja baju bagus (tapi sesuai selera saya, bukan sesuai mode/trend). Kalau suka saya ikuti, kalau tidak jangan harap saya mau beli hanya karena bela-belain biar gak dibilang ketinggalan zaman.
SO, apa sih “CANTIK” menurut kalian? Please, share your thoughts…. I’ll be very happy to read and share
Mulai sekolah
Wah wah…..tidak terasa, sudah lewat 2 bulan Bumi sekolah di TK. Awalnya agak takut jangan-jangan dia gak betah sekolah…. Sebenarnya Bumi bukan anak yang sulit, hanya agak gak bisa diam (anak kecil mana yang gak gitu ya?
) Saya memang sengaja tidak memasukkan ke playgroup seperti halnya trend sekarang…..bukannya apa-apa, takut bosen duluan sebelum sekolah “benarannya”. Jadi playgroupnya di rumah aja
toh teman-temannya di sekitar rumah juga banyak dan cukup beragam kehidupan sosialnya.
Jadi ingat saat hari pertama dia masuk sekolah, lihat dia pakai seragamnya :p Lucu deh….dia kayaknya juga ngerasa gitu soalnya senyum-senyum sendiri terus. Aneh kali ya pakai seragam dan mungkin karena anak kecil juga udah bisa merasakan grogi hehehhe…..
Duh kalo mengingat-ingat dulu pas aku masuk sekolah pertama kali…..kok gak ada yang nempel ya di otak……udah kelamaan kali ya
)
Oooopppss…fotonya mana ya…waduh waduh kok gak ada???? *grasak grusuk cari foto*
Smoking in Public Area
Hari Minggu siang, tepatnya kemarin, saya dan keluarga (ibu, adik-adik, anak-anak) ramai-ramai makan siang di luar. Gak ke tempat makan yang mahal memang
hanya di jongko pinggir jalan seberang masjid dekat Paris Van Java.
Kebetulan sudah untuk kedua kalinya saya makan disitu karena harganya murmer dan menyediakan hidangan ikan dan cumi yang rasanya lumayan enak (saya suka ikan dan berbagai hidangan seafood lain).
Suami saya dan suami adik saya tidak ikut. Suami saya karena kecapekan abis lembur sampai jam 24:00 Sabtu malamnya, sedangkan suami adik saya karena dapet giliran tugas jaga jadi gak ikut ke Bandung (adik saya tinggal di Depok dan kerja di PLN Ragunan sedangkan suaminya kerja di Nissan Pondok Indah).
Jadilah kami berenam memesan ikan nila, kerapu dan ayam goreng. Sementara menunggu pesanan, ada dua orang cowok (yang dari baju kaosnya, sepertinya bekerja sebagai pramuniaga salah satu toko di Paris Van Java, kaosnya warna merah dan di bagian belakangnya tertulis Sport, Beauty, Health) masuk dan memesan makanan juga. Salah seorang diantaranya merokok dan duduk dekat adik saya yang kebetulan sedang hamil 9 bulan. Ibu saya dengan sopan meminta cowok itu untuk mematikan rokoknya karena asapnya sangat mengganggu (secara jongkonya kecil dan sedang penuh-penuhnya, pengap lah ya…). Cowok itu dengan santainya menjawab setengah bertanya, “Emangnya kenapa?!” Menurut saya itu pertanyaan yang super duper idiot, yah….secara saya memang tidak tahu apakah dia cukup punya otak untuk memerintahkan matanya melihat bahwa di dekatnya ada anak balita dan ibu hamil.
Saya termasuk orang yang agak cepat panasan (hehehehe…), jadi saya jawab : “Karena ini tempat umum!”. Jawaban cowok itu : “Ya iya kan…?” (another idiot answer). Kata saya lagi : “Ya justru karena tempat umum makanya jangan seenaknya ngerokok dan asapnya mengganggu orang gitu dong!”. Jawaban dia lagi : melengos sambil menunjukkan sikap gak peduli dan melanjutkan mengisap rokoknya. Akhirnya kami memutuskan untuk membiarkan saja orang idiot itu dengan anggapan gak usah buang-buang napas buat nasehatin orang yang jelas-jelas retarded dan gak “worth it” banget.
Cowok itu punya anggapan yang aneh tentang tempat umum
Sepertinya menurut dia, di tempat umum boleh melakukan apa saja yang dia suka tanpa peduli apakah hal itu mengganggu orang lain atau tidak. Dan sepertinya sebagian besar orang Indonesia berpikiran sama kayak cowok itu…..what a shame…… Kenapa saya bisa bilang begitu? Karena kalau tidak, pasti gak bakalan ada orang yang seenaknya pipis di pinggir jalan (bukan hanya jalan sepi, tapi yang ramai juga loh!), merokok di tempat umum termasuk seorang PNS Depdagri yang merokok di dalam angkot yang kebetulan jendelanya tidak ada yang bisa dibuka (kebetulan penumpang yang lain termasuk saya saat itu langsung berusaha membuka jendela2 tapi tanpa hasil) sampai-sampai saya dengan sengaja mengipaskan asap rokoknya sendiri ke wajah orang itu (secara dia duduk hampir di depan saya) tapi entah punya hati dan otak atau tidak karena dia jelas-jelas tidak merasa saya menyindir dia
, buang sampah (termasuk puntung rokok atau abunya melalui jendela dari dalam mobil yang sedang berjalan) tanpa mempedulikan akibat yang bisa ditimbulkan dari tindakan gegabah tersebut, dan masih banyak hal lain yang kalau disebutkan bisa tambah bikin ngerasa malu bangsa ini. Saya tidak merasa hiperbolik menyebutkan “bangsa ini”….lha kalau PNS-nya yang jelas-jelas abdi rakyat dan seharusnya bekerja untuk rakyat karena dia dibayar pakai uang rakyat saja sikapnya seperti itu……..???
I used to be a smoker, yes that’s true….tapi untunglah sekarang sudah berhenti TOTAL dan saya bangga karenanya. Teman-teman saya banyak juga yang merokok, tetapi mereka tidak akan merokok di dekat anak-anak apalagi ibu hamil.
So, bagaimana pendapat kalian? Saya sangat senang jika ada yang berbagi pendapat atau cerita seputar masalah “human behaviour in public places”.










